Minggu, 27 November 2011

Djoko Kentjono - seorang masterpiece yang tak terlihat sinarnya

oke, sekarang disini gw akan ngebahas salah satu dosen gw yang menurut gw

HE IS AMAZING !

ini terkait dengan rasa curious gw terhadap beliau,
so dengan rasa penasaran intelektualitas yang tinggi, gw mulai menyelidiki beliau ...


di kampus, beliau adalah sosok yang punya integritas tinggi terhadap pendidikan.
di saat dosen lain menyepakati, misalnya ada cuti bareng nih,,
tapi beliau tetep hadir.


yang gw salut juga, he's always ON TIME!


and yang pasti dalam proses pengajarannya, beliau ga pernah setengah-setengah!
 

you know guys? beliau tuh udah tua bgt!

ni foto, buat gambaran awal.

yups! he is so cute you know!

hehe :)
and then gw mulai search all about him in ...

www.google.com 


and miracle happen :)

http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/3071 
  yang isinya seperti ini


"

Nyonya Fuad Hassan dan Djoko Kentjono Masuki Purna Bhakti di UI

Pengajar senior Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
(JSI-FIB) Universitas Indonesia, Ny Tjiptaningrum Fuad Hassan dan Djoko Kentjono
masuki masa purna bhakti di Universitas Indonesia.


Acara penghormatan kepada kedua pengajar senior Sastra Indonesia UI itu
dilakukan dengan peluncuran atau pengenalan dua buku, Hikayat Tunjung Arum untuk
Tjiptaningrum Fuad Hassan dan Tumbuhnya Sepucuk Taruk untuk Djoko Kentjono.

Menurut salah seorang dosen JSI-FIB UI Harimurti Kridalaksana, yang juga Rektor
Universitas Atmajaya Jakarta, Djoko Kentjono adalah sosok yang gigih
memperjuangkan terbentuknya ejaan yang disempurnakan (EYD). "Orang hanya tahu
bahwa buku EYD itu hanya menjadi lampiran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
tapi mereka tidak tahu perjuangan yang dilakukan Djoko Kentjono dan Basuki
Suhardi pada awal 1960-an," kata Harimurti.

Harimurti juga menilai Djoko Kentjono sangat gigih membela HB Jassin dan Boen
Sri Oemarjati, dua pengajar JSI-FIB yang dituduh manikebuis dan menjadi sasaran
pengganyangan PKI (Partai Komunis Indonesia). "Dari situlah saya tahu bahwa para
pengajar Jurusan Sastra Indonesia itu sangat solid," ujar Harimurti.

Pakar cerita anak-anak Riris Kusumawati Toha Sarumpaet mengungkapkan, sewaktu
masih menjadi mahasiswa, ia mendambakan mendapat pacar seperti Djoko Kentjono,
karena orangnya ganteng, putih bersih, dan rapi. "Saya mau buka rahasia bahwa
ketika saya masih mahasiswa, saya ingin mendapat pendamping seperti dia," akunya
yang disambut gelak tawa hadirin, yang sebagian besar guru besar Universitas
Indonesia itu.

Prof Dr Achadiati Ikram mengenang masa-masa dirinya bersama Tjiptaningrum Fuad
Hassan. "Saat kami diplonco, Ibu Tjip terkenal sebagai mahasiswi yang paling
cantik dan galak," katanya.

Dari pengakuan Achadiati Ikram dan Maria Indra Rukmi, terungkap pula bahwa sejak
dulu Ny Fuad Hassan terkenal sebagai orang yang dermawan. "Dia sosok ibu yang
baik. Ketika mengajar, ia selalu membagi-bagikan mahasiswanya permen," ujar
Maria Indra Rukmi, yang kini menjadi dosen di JSI-FIB UI.

Sementara Liberty P Sihombing mengatakan, Ny Fuad Hassan adalah guru yang paling
sabar. "Waktu saya kuliah, nilai Bahasa Sanskerta saya dapat ponten (nilai) 3,5.
Tapi, saya kemudian dipanggil ke rumah Ibu Fuad untuk dibimbing selama dua
bulan. Setelah dibimbing dengan kesabaran oleh Ibu Fuad, ponten saya untuk
Bahasa Sanskerta jadi delapan."

Pakar Bahasa Betawi Muhadjir menilai Djoko Kentjono sebagai pengajar yang
memperkenalkan pengetahuan linguistik modern di UI. "Waktu saya kuliah di UGM
(Universitas Gadjah Mada), pengetahuan linguistik yang saya dapatkan masih
sekitar tahun 1930 ke belakang, tapi di UI Djoko Kentjono mengajarkan linguistik
modern, yakni linguistik pasca Bloomfield," ujar Muhadjir.

Ny Tjiptaningrum Fuad Hassan yang didampingi suaminya, mantan Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Fuad Hassan beserta anak dan cucu, mengaku terharu dengan acara
penghormatan ini. "Saya menulis sambutan ini sambil menangis, karena saya tidak
mau mendengar ucapan selamat jalan, meskipun dalam hidup ini ada keniscayaan
'selamat datang' dan 'selamat jalan'. Itu semua karena saya sangat mencintai
kerabat yang ada di JSI-FIB UI," kata Ny Fuad Hassan.

Sementara Djoko Kentjono teringat bahwa ia mulai mengajar pada 1961. "Murid
pertama saya adalah Lucy Montolalu, yang sekarang sudah menjadi pengajar di JSI.
Waktu pertama kali mengajar, saya mempersiapkan bahan pelajaran semalaman. Tapi,
baru 20 menit mengajar, bahan yang saya persiapkan sudah habis. Saya langsung
katakan kepada mahasiswa, inilah perkenalan kuliah saya, dan kemudian saya
bubarkan," kenang Djoko Kentjono, yang dikenal semua mahasiswanya sebagai dosen
yang sangat teliti dalam menulis dan bertutur kata.

Seorang alumni, Kifty, mengatakan bahwa di kalangan mahasiswa, Djoko Kentjono
dikenal sebagai 'dosen malaikat'.

wow!!!

i couldnt say anything ... he's a phenomenal people, but not everybody know about it.

yaaa ,,,   dari kesimpulan di atas,

gw makin testpek respect ke beliau!
dedikasi beliau terhadap mahasiswa-mahasiswanya patut diacungin jempol!
dan gw salut bgt!

ok, i think enough Gan!
makasih udah mau nyimak, maaf kalo tulisan ini banyak poin hina dimana-mana,
maklum,newbie :)

see yaa ^__^
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar