Rabu, 01 Mei 2013

Analisis Budaya Batak Pada Novel Raumanen Karya Marianne Katoppo


ANALISIS NILAI BUDAYA BATAK DALAM NOVEL RAUMANEN
KARYA MARIANNE KATOPPO MELALUI PENDEKATAN OBJEKTIF

MAKALAH KAJIAN PROSA
Dosen Pengampu: NoviDiah Haryanti, M.Hum.








Oleh:
Nurfayerni 1110013000093
Naila Sa’adah 1110013000094











PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Bentrokan budaya dalam novel ini memang  terasa sekali dalam setiap aspek jalan ceritanya. Raumanen  merupakan salah satu novel Indonesia karya Marianne Katoppo. Novel ini menceritakan tentang Monang, seorang insyinyur Batak, yang kurang ajar dan “tak begitu bersih hidupnya” yang jatuh hati pada Raumanen, mahasiswa hukum tingkat tiga bersuku bangsa Minahasa, yang cerdas tapi “menjadi mangsa yang begitu empuk. Agaknya kisah semacam ini tak sulit ditebak.
Kisah kasih tak sampai karena pertentangan budaya dan kesukuan menyebabkan novel ini menjadi menarik untuk dibaca dan dianalisis. Bukan tanpa alasan hal yang demikian menjadi pertimbangan. Novel ini terbit pada tahun 1977, pada  masanya karya ini dianggap sebagai karya yang bukan sastra pop kelas bulu. Tulisan yang masih layak dibaca sampai kapanpun.
Novel Raumanen selain mengangkat tema benturan budaya di dalamnya, hal yang tak boleh dilupakan begitu saja yaitu mengenai feminisme. Seorang Marianne Katoppo merupakan tokoh feminis yang menonjol. Bahkan dalam suatu wawancara dengan Majalah Optimis Mei 1982, Marianne Kattopo mengaku selalu mengangkat tema wanita Indonesia dalam masyarakat Indonesia.
Marianne Katoppo adalah seorang feminis yang gigih mengangkat perasaan wanita dalam setiap karya-karyanya. Sebut saja salah satu novelnya yang berjudul Terbangnya Punai yang merupakan kisah seorang wanita di rantau. Tergambar jelas bagaimana kondisi batin dan perjuangan seorang wanita dalam menghadapi lika-liku kisah percintaan yang banyak aral melintang.
Kalau ingin membaca dan menelusuri novel ini, kita akan terbawa pada isi cerita yang penuh dengan perasaan karena penulisnya adalah seorang perempuan. Karena di Indonesia penulisan oleh seorang penulis wanita dengan ungkapan-ungkapan perasaan secara lugas itu masih langka, maka novel itupun layak dibaca.
Namun, terlepas dari itu semua, kami selaku peneliti sudah memutuskan untuk lebih mengkaji nilai-nilai budaya batak dalam novel ini. Menjadi hal yang menarik untuk dikaji karena tema besar yang ada dalam novel ini memang mengenai benturan budaya yang dialami tokoh Monang dalam budaya Batak. Sesuatu yang menggelitik kami untuk meninjau lebih jauh apa saja falsafah budaya Batak dan hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan dalam budaya Batak.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana unsur intrinsik yang terkandung dalam novel Raumanen?
2.      Bagaimana nilai budaya Batak pada novel Raumanen?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui unsur instrinsik dalam novel Raumanen.
2.      Mengetahui nilai budaya batak pada novel Raumenen.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Novel ini pernah dikaji oleh seseorang (anonim) dalam surat kabar Sinar Harapan pada tahun 1978 dengan judul artikel “Raumanen” dan “Bukan Impian Semusim”. Ia mengkaji tentang nilai religius yang terkandung dalam novel Raumanen. Dapat disimpulkan bahwa pengarang hendak melawan anggapan salah: bahwa bunuh diri adalah dosa tak berampun. dalam bukunya ini ternyata Raumanen akhirnya bisa naik dan mekar, mencari ilahi kerinduanku, setelah mengerti, menyerah, dan insaf. Tokoh yang membunuh dirinya sendiri tetap juga mendapatkan ampunan dari Tuhan.
Tentu saja bukan maksud pengarang agar orang menggampangkan diri untuk bunuh diri. Di sini pengarang hanya hendak menunjukkan betapa orang semuda Raumanen yang masih goyah, cenderung untuk bunuh diri dalam menghadapi konflik yang ruwet.[1]


















BAB III
BIOGRAFI PENGARANG, LATAR BELAKANG LAHIRNYA KARYA,
DAN SINOPSIS NOVEL RAUMANEN
A.    Biografi Pengarang
Marianne Katoppo, Theolog serta sastrawan Indonesia yang berasal dari Kota Tomohon, Sulawesi Utara, 9 Juni 1943. Sebagian besar pendidikannya dilalui di luar negeri. Usai meraih gelar Sarjana Muda di Sekolah Tinggi Teologi, Jakarta (1963), ia berangkat ke Tokyo, belajar di International Christian University (1964), lalu di Shingakuhbu sejenis sekolah Teologi, Doshisa Daigaku, Kyoto (1965).
Orang selalu mengidentikkannya dengan Raumanen, novel yang muram, membuat hati pembacanya berpasir. Ia kemudian juga lebih dikenal masyarakat luas sebagai seorang Novelis, ketimbang seorang Teolog Dunia. Raumanen memenangkan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1975 dan petama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung di majalah Femina, sebelum akhirnya dibukukan ditahun 1977. Selain itu, novel Raumanen ini juga menggondol hadiah dari Yayasan Buku Utama pada tahun 1978 dan SEA Write Award  pada tahun 1982.[2]
Anak bungsu dari 10 bersaudara keluarga Elvianus Katoppo, Menteri Pendidikan Zaman Negara Indonesia Timur ini sudah bekerja sebagai peneliti naskah di British and Foreign Bible Society, salah satu penerbit tertua di dunia, tahun 1966-1969. Pada tahun 1970-1974 ia bekerja di AB Svenska Pressbyran, Stockholm, Swedia.
Pulang ke Indonesia, ia menyelesaikan study Sarjana Lengkap di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (1975-1977) dan melanjutkan studi Pascasarjana di sebuah lembaga pendidikan teologi terkenal di dunia, yaitu Institute Oecumenique Bossey, Swiss selama setahun. Namun, hasil hidup dan bekerja di luar negeri yang sering dibayangkan orang banyak memberi keuntungan materi, tak tersisa pada perempuan yang memilih hidup melajang hingga akhir hayatnya ini.
Tak banyak yang mengetahui bahwa Henriette M. Katoppo menguasai 12 Bahasa asing secara fasih, mulai dari yang standar seperti Inggris, Belanda, Belgia, Jepang dan lain-lain hingga ke bahasa Rusia, Latin, Tamil, Sahwil, dan lain-lain dikuasainya dengan sempurna.
Katoppo dikenal sebagai Teolog Feminis Pertama di Indonesia dan Asia. Karya teologinya Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology (1979) diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Swedia dan bahasa Tagalog, dan dipakai sebagai buku ajar di berbagai sekolah Teologi dan Seminari di seluruh dunia.
Katoppo adalah Anggota Pendiri dan mantan Koordinator Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) Indonesia (1982), Forum Demokrasi (1991), Kelompok HATI (1980), International Council WCRP. Ia giat sebagai aktivis dan pencetak opini. Pada tahun 1995 ia mewakili Pramoedya Ananta Toer dalam menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Filipina. Ia juga pernah duduk sebagai salah satu Anggota dari Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia.
Katoppo meninggal dunia pada 12 Oktober 2007 di Bogor, di sisi kakaknya, Pericles Katoppo. Penyebabnya diduga serangan jantung. Jenazahnya dikremasikan pada 13 Oktober 2007 di Krematorium Oasis, Tangerang.[3]
B.     Latar Belakang Lahirnya Novel Raumanen
Mula-mula kisah inti Raumanen hanya merupakan salah satu bab dalam Dunia Tak Bermusim (novel pertama karya Katoppo). Namun akhirnya dihilangkan, karena rasanya patut menjadi cerita sendiri. Fokusnya lain, berbeda dengan fokus Dunia Tak Bermusim. Pada saat-saat lowong, tanpa tugas dan kegiatan, Katoppo menulis naskah Raumanen. Dorongan dari Rustandi dan sastrawan lain membuatnya semangat, sehingga novel Raumanen tidak tersimpan terus di dalam laci.[4]
Novel Raumanen sempat juga menimbulkan kontroversi karena penggambarannya yang jujur tentang hubungan lelaki-perempuan dan tentang ketegangan antar agama dan suku—hal-hal yang masih menjadi masalah di Indonesia sampai sekarang. Gampang memang untuk membaca novel ini sebagai kisah cinta bertepuk sebelah tangan antara gadis Manado Raumanen dan pemuda Batak Monang, tapi pergulatan di dalam hati tokoh-tokohnya yang digambarkan secara cermat, dan tabrakan-tabrakan yang terjadi antara mereka dan adat daerah mereka masing-masing, menjadikan novel ini sebuah saksi penting kondisi sosial waktu itu.[5]   

C.     Sinopsis
Novel ini secara ringkas menceritakan kisah cinta dua orang remaja yang berbeda latar belakang adat dan budaya. Raumanen, atau sering dipanggil Manen adalah seorang gadis Menado yang tinggal di Jakarta. Ia seorang gadis berusia 18 tahun, berwawasan luas dan aktif di suatu organisasi. Sementara si lelaki bernama Monang, seorang insinyur muda yang energik, berdarah Batak. Dua orang pria dan wanita ini juga memiliki karakter yang berbeda. Manen, sebagai gadis yang baru berusia 18 tahun masih sangat lugu berbicara soal cinta, sementara Monang sebagai seorang insinyur muda sangat senang berganti-ganti pacar.
Pertemuan mereka dimulai ketika Manen mengukuti kegiatan organisasi. Di tempat itulah Manen bertemu dan berkenalan dengan Monang. Sejak saat itulah mereka berdua sering bertemu. Teman-teman Manen selalu mengingatkan Manen agar berhati-hati, karena mereka tahu siapa Monang, lelaki perlente yang sangat senang gonta-ganti pacar. Tetapi peringatan teman-temannya itu tidak diperhatikan Manen. Ia selalu mengatakan pada teman-temannya bahwa hubungan mereka sebatas kakak dengan adik saja. Namun hari demi hari, bersemi juga rasa cinta Manen terhadap Monang, pun perasaan Monang pada Manen juga berubah. Monang merasa bahwa Manen tidak seperti gadis-gadis yang telah ia pacari. Pendek kata, Monang merasa bahwa Manenlah gadis yang selama ini ia idam-idamkan. Melihat kenyataan ini, teman-teman Manen kembali memberi peringatan. Tidak kurang ibu Manen juga memberikan nasihat agar Manen serius dalam kuliah dulu. Semua nasihat ini tidak digubris Manen. Dua laki-laki dan wanita itu sudah saling jatuh cinta. Hingga perbuatan yang dilarang agama pun terjadi di sebuah bungalow di Cibogo, Puncak. Monang berjanji pada Manen bahwa dirinya akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Manen. Monang akan menikahi Manen. Tetapi sejak peristiwa itu, batin Manen menjadi tidak tenang. Meski Monang telah bersumpah akan menikahinya, meskipun lelaki itu telah mengenalkan dirinya kepada kedua orangtuanya. Gadis muda belia itu selalu khawatir jika Monang tidak benar-benar cinta terhadap dirinya, karena Monang sangat jarang menyatakan perasaan cinta secara lisan. Padahal Monang sangat sayang dan cinta kepada Manen. Peristiwa di Puncak itu terus berulang hingga pada akhirnya Manen hamil. Monang yang mengetahui kekasihnya hamil menjadi sangat senang. Monang membujuk orangtuanya agar menikahkan mereka. Tetapi alangkah mengejutkan, orangtua Monang tidak menyetujui pernikahan beda suku itu. Namun, Monang tetap bertekad akan menikahi Manen meski tanpa restu orangtua. Di sisi lain, Manen sebagai gadis belia selalu saja khawatir. Kekhawatiran itu semakin menjadi-jadi ketika hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa bayinya akan lahir cacat. Hal itu disebabkan penyakit sifilis yang dibawa oleh Monang. Dokter menyarankan agar mereka menggugurkan kandungan, tetapi Monang tidak sepakat karena ia sangat ingin memiliki seorang anak dari darah dagingnya. Di tengah ketersiksaan diri itulah, Gadis belia Manen mengambil keputusan yang tidak diduga-duga. Peristiwa di puncak yang sesungguhnya dilarang agama itu kembali membayanginya. Bayangan Monang yang sangat jarang mengucapkan rasa sayang secara lisan kepadanya. Ketidaksetujuan orangtua Monang atas hubungan mereka, perasaan bersalah dan berdosa Manen kepada ibunya, kepada teman-temannya bercapur aduk menjadi satu. Karena tidak tahan mengalami siksaan batin itu, akhirnya Manen bunuh diri.






















BAB IV
ANALISIS NOVEL  RAUMANEN
A.    Unsur Intrinsik Karya
1.      Tema: Bentrokan budaya.
Novel ini menceritakan perbedan budaya yang terjadi antara Manen dan Monang. Budaya Batak yang mengharuskan seorang anak laki-laki menikah dengan gadis yang sesuku. Sedangkan, Manen sendiri keturunan suku Manado, dan karena sebab itulah ibu Monang tidak menyetujui hubungan mereka. Terjadilah bentrokan budaya daerah Batak dan Manado.
“.... Sedangkan Manen berkata cepat-cepat, dengan pipi merah karena marah, “Kadang-kadang boru Manado pun paham bahasa Batak!” (Raumanen, 2006: 14)
“.... Kalau tidak tunduk pada hukum adat, mereka takkan dianggap.” (Raumanen, 2006: 45)
“Manen yang baik,” tulis Miri. Maafkan kalau Miri menyakiti hatimu. Soalnya, Kak Monang adalah anak tertua dalam keluarga kami, dan menurut adat kami ia harus kawin dengan orang kami juga....” (Raumanen, 2006: 96)

2.      Tokoh dan Penokohan
Raumanen atau Manen (Romi—nama panggilan kesayangan ayahnya)
Gadis bermuka bundar, berkulit langsep, cantik, rajin, independen, berwawasana luas, dan aktif berorganisasi. Ia sangat lugu dan polos, sehingga mudah percaya dengan orang lain, apalagi setelah ia mengenal Monang. Hidupnya pun berubah akibat perbuatan yang mereka lakukan. Manen menyesali perbuatannya, ia juga termasuk orang yang pemaaf.
“Memang Manen sendiri seorang gadis remaja bermuka bundar, berkulit langsep, sebagaimana umumnya dianggap menjadi ciri khas putrid Manado.” (Raumanen, 2006:21)
“.... Karena perbuatan Monang, aku jadi begini .... Tetapi aku sudah lama mengampuninya.” (Raumanen, 2006:3)
“Manen mengemasi pakaiannya. Ia dan Ilyas diutus ke Bandung mewakili pengurus pusat pada acara perkenalan mahasiswa di sana....” (Raumanen, 2006: 25)

Hamonangan Pohan (Monang)
Pemuda yang doyan pesta, gila perempuan, bergaya perlente, acuh tak acuh, senang menggambar. Insinyur muda yang enerjik, sangat patuh dengan perintah ibunya. Hingga pada akhirnya, ia menikah dengan gadis pilihan ibunya, dan meninggalkan Manen.
“Patrik mengantarkan Manen ke dalam rumah. Menunggu pintunya dibuka, ia berkata sungguh-sungguh, “Hati-hati kau terhadap orang itu, Nen. Memang daya pesonanya besar dan hatinya sebetulnya baik, tetapi ia gila perempuan! Setiap bulan ganti pacar!” (Raumanen, 2006: 19)

Ibu Monang
Orangtua yang sangat mematuhi hukum adat, berwatak keras, dan  menurut gambaran Manen, ibu Monang ini menakutkan. Karena masih mematuhi hukum adat tersebut, maka anaknya Monang harus menikah dengan gadis yang sesuku dengan silsilah keluarganya.
“Manen belum pernah berjumpa dengannya muka dengan muka. Selalu digambarkannya sebagai makhluk yang ngeri menakutkan, menyemprot api sebagai ular naga.” (Raumanen, 2006: 91)

Istri Monang
Istri Monang sebenarnya hanya sebagai tokoh tambahan saja, digambarkan sebagai istri yang setia dan bijaksana. Tetapi, peranannya juga penting di dalam cerita.
“.... Sungguh tak termaafkan, dan pasti menyayat hati istri yang setia.” (Raumanen, 2006: 5)
“Mungkin sikap istriku sangat bijaksana. Mungkin ia terlalu bodoh. Siapa tahu?” (Raumanen, 2006: 8)

Semua tokoh sangat berpengaruh penting terhadap jalannya cerita di novel ini. Adapun tokoh-tokoh (tambahan/pendukung), yaitu:
Anaknya Manen (tanpa nama)
Raumanen Teresia (Nenek Manen—Oma Romi)
Patrik dan Ilyas (teman Manen dan Monang)
Namboru (Bapak Propesor)
Pak Rumokoi (Ayah Raumanen)
Ibu Marya (Ibu Manen)
Loce, Tiur, Ai-lin, Anton, Ruli, Togi dan Bistok (teman Monang)
Ferial (ipar Manen), Edu (kakak Manen, suami ferial)
Lori (teman kuliah Edu), Petu (pacar Lori)
Hilda (sepupu Manen), Johan (tunangan Hilda), Tante Ance (ibu Hilda)
Tagor (tetangga Manen yang pernah mengajar bahasa Batak Toba padanya)
Resi Theresia (saudara sepupu Manen)
Norah (ipar Ilyas), Laung (kakak Ilyas, suami Norah), Priscila (anak Norah)
Tante Uli (adik bungsu ayah Manen)
Sara (pacar Petrik), Joni (adik Sara)
Ewa (sekteraris yang pernah bekerja di proyek tempat Monang bekerja sekarang)  
Miri, Ria, dan Gita (adik-adik Monang)
Sahat (teman Manen), Rakhel (tunangan Sahat)
Miss Roell si Juru rawat
Bonar (teman Manen, Ketua kongres)
Philip (teman Manen yang mengambil jurusan kedokteran)
Lani (teman Manen, Sekretaris Kongres)
Toar (kakak Manen), Olivia (istri Toar)
Menar (keponakan Manen, anak dari Ferial)
3.      Latar
a.       Latar tempat
Bandung, kota kembang.
Tempat yang sebenarnya kisah kasih Manen dan Monang mulai terjalin, menaburkan kuncup belianya ke dalam hati mereka. Bandung juga kota tempat Monang menuntut ilmu selama tujuh tahun.
“Bandung adalah kota tempat Monang menuntut pelajaran selama tujuh tahun. Ia turut menjadi tokoh gerakan mahasiswa....” (Raumanen, 2006: 31)

Bukit Dago
Pertama kalinya Monang berani mencium Manen dan mengungkapkan perasaannya ke Manen. Saksi bisu kegilaan Monang.
“Memang, ketika Anton sudah turun, Monang tidak membawanya kembali ke tempat api unggun, tetapi ke Bukit Dago. Dimatikannya mesin di suatu tempat yang sunyi, lalu dipegangnya tangan Manen.” (Raumanen, 2006: 37)

Di Flamboyan di pinggir jalan.
Tempat Manen menunggu kedatangan keluarganya dan menunggu kekasihnya Monang untuk datang melihatnya.
“Aku berdiri di Flamboyan di pinggir jalan raya. Kulihat-lihat jalan ke kota. Begitu banyak kendaraan yang berlalu, tetapi satu pun tak berhenti, menurunkan tamu bagiku.” (Raumanen, 2006:47)

Bungalow (tempat untuk beristirahat)
Ketika itu mobil Monang mogok di Cibogo, Puncak. Kemudian, mereka mencari tempat untuk berteduh karena hujan turun dengan derasnya. Di bungalow itu mereka diberikan kamar oleh penjaga bungalow, dan apa yang terjadi setelah itu bagaikan mimpi buruk bagi Manen. Mereka melakukan perbuatan selayaknya seperti suami dan istri. Sampai akhirnya, Manen pun Hamil.
“Akhirnya mereka pergi berteduh di suatu bungalow dekat situ. Tadinya hanya berniat duduk di beranda, menuggu redanya hujan. Tetapi penjaga bungalow itu muncul: membukakan pintu kamar tamu, kamar makan, kamar tidur ...” (Raumanen, 2006: 62)

Rumah Manen
Rumah yang sangat kecil, yang cukup untuknya. Jika kita cermati, pencerita menggambarkan itu sebagai tempat peristirahatan terakhir (kuburan).
“Rumahku sekarang kecil—barangkali terlalu kecil. Tetapi cukup bagiku. Aku toh di luar, dalam alam terbuka ... juga waktu musim hujan.” (Raumanen, 2006: 73)   

b.      Latar waktu
Suatu waktu saat Monang menyadari bahwa hari sudah pagi.
“Kubuka jendela, kuhirup udara segar dini hari. Teduhnya pagi ini .... Seekor burung pipih hinggap dekat tanganku....” (Raumanen, 2006: 8) 

Suatu malam ketika Monang bermimpi tentang Manen.
“Tadi malam, aku bermimpi tentang Raumanen. Rupanya kuteriakkan namanya....” (Raumanen, 2006: 5)

Suatu malam ketika Manen berharap Monang akan datang menemuinya.
“Malam itu Monang tidak datang, Manen makin gelisah....” (Raumanen, 2006: 89)
“Malam itu Monang datang, sesuai dengan janjinya....” (Raumanen, 2006: 97)

Sore hari yang digambarkan ketika Manen bertemu dengan Philip.
“Sore itu, Manen datang ke tempat praktek Philip. Lama mereka berbicara....” (Raumanen, 2006: 120)

c.       Latar suasana
Tegang dan mencekam.
“Dia tak berbicara. Aku pun diam. Kami sudah lama tak berusaha lagi menjembatani jurang di antara kami dengan penjelasan, permohonan, penghiburan....” (Raumanen, 2006: 5)
“Aku bangkit dari ranjang, keluar dari kamar tidur yang menyesakkan nafas itu....” (Raumanen, 2006: 5)  

4.      Alur: Menggunakan alur maju-mundur. Pengarang menceritakan keseluruhan cerita dengan sangat sederhana, sehingga membuatnya menarik. Disajikan dengan teknik penceritaan yang unik, menggunaan tiga pencerita, yaitu; komentar pencerita, monolog interior langsung, dan monolog interior tak langsung.[6]
Diawali dengan pertemuan dan perkenalan antara Manen dengan Monang. Ketika mereka sedang menghadiri acara ulang tahun Bapak Profesor.
Konflik yang terjadi setelah mereka bertemu dan mengenal lebih dekat satu sama lain, tanpa disadari, tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka, mereka pun saling mencintai. Manen yang mengetahui siapa sebenarnya Monang, merasa ragu dengan kasih sayang dan cinta yang diberikan Monang untuknya, begitu juga sebaliknya.
Klimaks pun terjadi dengan pembuktian percintaan mereka. Akibatnya, Manen pun hamil.
Klimaks berubah menjadi anti klimaks dengan senangnya Monang mendengar kabar tersebut, Monang pun akan bertanggung jawab. Namun, pada nyatanya ia tidak berani menikahi Manen, dikarenakan ibu Monang telah menjodohkannya dengan gadis pilihan ibunya yang sesuku.
Penyelesaian diakhiri Manen dengan cara bunuh diri.

5.      Sudut Pandang: Pengarang menuliskan cerita dengan tiga macam sudut pandang. Satu pencerita dengan gaya diaan (bercerita dalam bab 1 – bab 11), dan dua pencerita dengan gaya akuan (dalaam bab-bab yang berjudul “Manen” dan “Monang”). Komentar pencerita dan monolog interior tak langsung bercerita dengan gaya diaan. Sedangkan di dalam masing-masing penceritaan dengan pencerita gaya akuan terdapat monolog interior langsung.[7]
Monolog interior langsung:
“Akhir-akhir ini, tak pernah lagi teman-temanku datang menjengukku. Padahal dulu, ketika aku baru pindah kemari, hampir setiap hari mereka datang.” (Raumanen, 2006: 1)
“Tadi malam, aku bermimpi tentang Raumanen. Rupanya kuteriakkan namanya—karena ketika aku bangun, gemetar dan basah keringat, nama itu masih bergema dalam kepekatan kamar tidurku.” (Raumanen, 2006: 5)

6.      Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam novel Raumanen mudah dipahami, bahasanya sederhana, menggunakan ungkapan-ungkapan dan mengandung majas-majas.
“Tetapi itu bukan Cuma salahmu, Monang. “Badai meniupkan kapal-kapal ke mana nahkodanya tak berhasrat pergi,” kata suatu pepatah kuno.” (Raumanen, 2006: 4)
“.... Kalau aku, derita itu malahan membakar jiwaku. Hingga akhirnya kering, tandus, menjadi abu.” (Raumanen, 2006: 7)
“.... Sayup-sayup terdengar suara musik rock menjembatani ombak-ombak yang tenang berayun itu. Purnacandra mengintip dari balik awan hitam. “Ah Bulan Kegairahanku yang tak pernah sirna! Sekali lagi megah kau rias cakrawala: Masih berapa kali lagi kau ‘kan mencariku, dan aku yang malang ... sudah lama binasa!” kata Manen tiba-tiba” (Raumanen, 2006: 98)  
“Dan tangannya ... ya Tuhan, tangannya memegang pedang terhunus yang diarahkannya padaku .... Pedang yang menyambarku bagaikan halilintar!” (Raumanen, 2006: 130)

7.      Amanat
Amanat yang terkandung dalam novel Raumanen yaitu janganlah menjadi perempuan yang lemah dan bertekuk lutut oleh cinta. Karena cinta sesungguhnya hanya milik-Nya. Perempuan harus menjadi raja atas perasaan, bukan menjadi budak hingga menyengsarakannya.
Pesan tersirat pun ingin disampaikan pengarang, bahwa kita harus saling memaafkan dan jangan memiliki sifat pendendam. Tuhan saja maha pengampun, kita sebagai manusia tidak berhak menolak penyesalan seseorang.
B.     Nilai Budaya Batak pada novel Raumanen
Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) = tsaqafah (bahasa Arab), berasal dari perkataan Latin; “Colere” yang artinya mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.
Ditinjau dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “budhayah”, yaitu bentuk jamak dari budhhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain mengatakan, bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk adidaya, yang berarti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.
Mengenai definisi “kebudayaan”, telah banyak sarjana-sarjana ilmu sosial yang mencoba menerangkan, atau setidak-tidaknya telah menyusun definisinya.  Ada dua orang sarjana antropologi yaitu A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn, yang pernah mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang paham kebudayaan yang termaktub dalam banyak buku-buku yang berasal dari banyak pengarang dan sarjana. Terbukti ada 160 macam definisi tentang kebudayaan, yang kemudian dianalisis dicari intinya dan diklasifikasikan dalam berbagai golongan dan kemudian hasil penyelidikan itu diterbitkan dalam suatu kitab bernama “Culture, A Critical Reviewof Concepts and Definistion 1952”[8]
Budaya Batak pada masa dulu hidup terasing di Dataran Tinggi Toba dan Karo. Kontak budaya dalam suku lain tidak banyak terjadi, kalaupun ada tidak terlalu mempengaruhi pola kehidupan asli mereka. Mereka meninggalkan kepercayaan dan pola kebudayaan lama setelah mereka menerima pengaruh agama Islam dan Kristen.
Kesatuan hidup kekerabatan terkecil pada orang Batak adalah keluarga inti monogami. Bentuk ini oleh orang Toba disebut saama (satu bapak) saripe(satu keluarga). Orang Simalungun menyebutnya seamang(satu bapak)atau sepanganan (satu keluarga). Orang Karo menyebutnya sada bapa (satu bapak). Akan tetapi mereka sangat kuat berpengang kepada bentuk keluarga luas terbatas yang terdiri atas satu keluarga batih senior dan keluarga batih anak laki-lakinya, sehingga pola menetap keluarga luas terbatas ini adalah virilokal. Kesatuan kekerabatan seperti ini sering disebut Saompu (Satu kakek). Anak laki-laki dan keluarganya akan berdiam bersama keluarga asalnya selama ia belum mampu manjae(berdiri sendiri). Setelah mampu, ia boleh mendirikan rumah dekat rumah bapaknya.
Prinsip pola hubungan kekerabatan orang Batak diatur oleh ikatan adat yang disebut Dalihan Na Tolu (pokok yang ketiga). Komuniti ini paling tidak terbagi kepada tiga kelompok kekerabtan, di mana setiap kelompok harus mencari jodoh di luar kelompoknya. Orang-orang dalam satu kelompok saling menyebut sabutuha (bersaudara). Kelompok lain yang menerima gadis untuk diperistri hula-hula. Kelompok yang memberikan gadis disebut boru. Untuk bisa berjalan maka diperlukan paling tidak tiga kelompok kekerabatan. Peran satu kelompok sebagai hula-hula atau boru terhadap yang lain tidak boleh berubah. Prinsip kekerabatan ini kelihatan menonjol dalam berbagaii upacara adat, seperti upacara mendirikan rumah baru, kelahiran, kematian, perkawinan, membersihkan tulang belulang nenek moyang dan sebagainya.
Falsafah hidup Batak ada 7 yaitu:
1.    Mardebrata: Mempunyai kepercayaan kepada Tuhan. sejak jaman batu, orang Batak telah mengenal adanya Tuhan yang disebut Ompu mulajadi na Bolon.
2.    Marpinompar : Mempunyai keturunan. Setiap marga Batak menghendaki adanya keturunan sebagai generasi penerus, khususnya anak-anak laki-laki, agar silsilahnya tidak terputus atau hilang.
3.    Martutur : Mempunyai kekerabatan hierarki dalam keluarga, yang dikuatkan dengan Dalihan Natolu, yaitu Dongan Sabutuha ( semarga) dengan panggilan kekerabatan abang, bapa uda, dan bapa tua, hula-hula( keluarga dari pihak istri)dan boru( keluarga dari pihak menantu laki-laki suami anak perempuan kita) dengan sebutan lae(ipar) dan atau Amangboru, sehigga ketiga unsur tersebut dihimpun dalam somba marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru. 
4.    Maradat : Mempunyai adat dan istiadat dengan pelaksanaan dalihan natolu(tiga tungku)yang implementasinya somba (hormat) kepada keluarga pihak istri, manat(hati-hati)kepada dongan tubu( semarga), dan elek atau mengasihi boru ( anak perempuan kita besert keluarganya).
5.    Marpangkirimon: Mempunyai pengharapan (cita-cita), yakni mencapai harmoraon (pencapaian harta/materi), hagabeon (mendapatkan anak laki-laki dan perempuan) dan hasangapon( punya kedudukan dan dihormati dalam lingkunga. masyarakat).
6.    Marpatik: Mempunyai aturan dan undang-undang yang dapat mengikat semua masyarakat Batak untuk tidak membuat anarkis, dan lengkap dengan sanksi yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan raja-raja dan harus dihormati semua pihak.
7.    Maruhun: Mempunyai hukum dan undang-undang yang baku ditetapkan oleh raja huta ( raja kampung) berdasarkan musyawarah yang harus dihormati dan dituruti oleh semua pihak.[9]
Falsafah Marpinompar (Punya Keturunan)
Anak demikian penting dalam keluarga orang Batak. Simak perumpamaan berikut :
Tampuk ni pusu-pusu, ihot ni ate-ate, dohot tumtum bani si ubeon di hajolmaonna, na jadi tondi siudut hosa dohot ngolu dibagasan adat Batak dohot Habatohon
(Anak merupakan tampuk/pusat dari jantung, pengikat hati, dan alat pencernaan dalam perut. Anak menjadi roh penyambung nafas dan kehidupan di dalam adat dan perilaku Batak. Dengan pengertian itu, bila anak laki-laki “Manunda” (melakukan kesalahan, mengakibatkan orang lain mengalamai kerugian, baik hart ataupun moril), maka anak tersebut tidak boleh disakiti/dibunuh. Akan tetapi, kita harus membayar kerugian materi yang dibuat oleh anak itu. Demikian pula dengan anak perempuan “Pahilolong” (meninggalkan suami atau berselingkuh dengan laki-laki lain), maka anak jangan ditenggelamkan ke sungai/danau.akan tetapi, kesalahannya itulah kita bayar, walaupun lebih besar biayanya dari biaya pernikahannya.)[10]
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada peraturan atau adat Batak yang menyebutkan bahwa orang Batak harus menikah dengan sesame orang Batak. Dari prinsip pola hubungan kekerabatan orang Batak diatur oleh ikatan adat yang disebut Dalihan Na Tolu (pokok yang ketiga). Komuniti ini paling tidak terbagi kepada tiga kelompok kekerabatan, di mana setiap kelompok harus mencari jodoh di luar kelompoknya. Inilah mengapa mereka harus mengetahui apa nama marganya dan apa nama marga calon pasangannya. Jika dilanggar, mereka akan dikucilkan dari pergaulan.
“Monang tertawa, tapi nadanya tidak gembira. “Ah, Raumanen! Kau begitu bodoh …. Calon-calon yang disodorkan oleh ibuku selalu gadis-gadis Batak yang paing cocok menurut hukum adat ….” (Raumanen, 2006: 39)
Pada kutipan di atas, terdapat prinsip Batak yang tidak sesuai dengan  prinsip pola kekerabatan orang Batak. Monang berkata bahwa menikah dengan wanita Batak adalah hukum Adat. Nyatanya, tidak ada prinsip yang demikian dalam budaya Batak.
“Dan ingin kuteriakkan kepada perempuan tua ini, yang selalu menangani nasibku sejak aku dilahirkannya ke bbumi ini: “Jangan kau harapkan cucu dariku! Inilah upah kekerasan hatimu! Ganjaran yang kau terima bagi kecongkakanmu …. Dulu kau tak sudi mengaku anakku sebagai cucumu, bila darahnya bmonang tidak mempunyai keturuan dari istri sahnyaukan darah Batak murni. “ (Raumanen, 2006: 79)

Pada kutipan di atas jelas tertulis bahwa Monang tidak mempunyai anak dari istrinya yang merupakan saudaranya yang berasal dari Sibolga. Walaupun Monang mempunyai anak dari Raumanen, namun anak tersebut tidak diakui oleh ibunya Ini merupakan salah satu kegagalan dari seorang Batak dan menyalahi salah satu falsafah hidup mereka..
“Padahal seorang laik-laki Batak sangat mengharapkan seorang putra. Tanpa putra, ia akan hilang dari silsilah keluarganya. (Raumanen, 2006:46)



















BAB V
PENUTUP
SIMPULAN
Novel karya Marianne Katoppo ini menjadi menarik untuk dibaca karena menuliskan kisah yang tidak biasa pada zamannya. Novel Raumanen sempat menimbulkan kontroversi karena penggambarannya yang jujur tentang hubungan lelaki-perempuan dan tentang ketegangan antar agama dan suku—hal-hal yang masih menjadi masalah di Indonesia sampai sekarang.
Novel Raumanen ini mengangkat tema tentang bentrokan budaya Batak dan Manado. Konsep bahwa lelaki keturunan Batak harus menikah dengan gadis yang sesuku. Pengarang juga menceritakan keseluruhan cerita dengan sangat sederhana, sehingga membuatnya menarik. Disajikan dengan teknik penceritaan yang unik, menggunaan tiga pencerita, yaitu; komentar pencerita, monolog interior langsung, dan monolog interior tak langsung.
Nilai budaya dalam novel ini terjadi pada tokoh Monang. Konflik pada dirinya semua bersumber pada bentrokkan budaya Batak di sana-sini. Permikahan yang harus berasal dari suku yang sama dan Monang yang tidak mempunyai anak menjadi masalah sentral budaya Batak. Tidak bisa dipungkiri, bahwa novel ini adalah novel dengan bentrokkan budaya yang terpapar begitu jelas. Namun, untuk kasus dalam adat yang diutarakan oleh Ibu Monang bahwa orang Batak harus menikah dengan sesama sukunya tidaklah benar. Dalam budaya Batak hanya ditulis bahwa orang Batak tidak boleh menikah dengan sesama marganya.












DAFTAR PUSTAKA

( Dihilangkan untuk alasan menghindari copast)






Hasil diskusi kelas 6C pada tanggal 2 Mei 2013, Pukul 07.30-10.30 WIB

Perempuan penulis Indonesia
-1920-1930       : Hamidah (Kehilangan Mestika), S. Rukiah (Kejantanan Hati), Selasih (Kalau Tak Ada Untung), Arti Purbaini (Widyawati)

-1950                : N.H Dini

-1970                 : Marga. T, La Rose, Marianne Katoppo -----> Sastra Pop/ Populer

Pada tahun 1960-an, perempuan dianggap sebagai kelompok non produktif. Dibagi menjadi dua kelompok yaitu penulis dan kaum konsumerisme (membeli dan membaca).

Pada tahun1970-an, kondisi Indonesia mengalami perbaikan ekonomi, maraknya media khusus perempuan, yaitu majalah Femina, Ayah Bunda dll. Dan maraknya produktivitas.

Menariknya novel ini adalah ketika diterbitkan pada tahun 1970-an, tokoh Raumanen menjadi perempuan yang mempunyai sikap yang berani jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang ada pada novel-novel sebelumnya.



2 komentar:

  1. Hmmm... hilangkan pustaka Naila, kalau terlalu lengkap siap-siap di-copas hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh ada dosen saya ini. hehe. Iya Bu, segera saya edit. Terimakasih untuk masukkannya ^_^

      Hapus