Kamis, 30 Mei 2013

sejarah drama dunia



SEJARAH DRAMA DUNIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Kajian Drama










Disusun
Kelompok 2:
Zaky Ramdani M         1110013000000
Nayla Saadah               1110013000094
Solikah                        1110013000106






JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Membicarakan drama tidak akan lengkap bila tidak mengenal sejarah drama itu sendiri. Sebagaimana bentuk karya lainnya, drama terlahir melalui proses kreativitas yang cukup panjang. Sejak berabad-abad, para penggiat drama terus melakukan eksplorasi hingga melahirkan berbagai jenis dan bentuk pementasan drama. Meskipun waktu dan tempat pertunjukan drama yang pertama kali dimulai tidak diketahui secara pasti, namun teori tentang asal mulanya bisa ditelusuri berdasarkan  upacara agama primitif. Proses ritual yang semula hanya berisi puji-pujian serta gerak yang sederhana mulai ditambahi dengan unsur cerita hingga berkembang menjadi pertunjukkan drama. Drama  juga berasal dari nyayian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam prosesnya, seseorang akan mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan dengan penuh ekspresi penghayatan. Karena adanya respon dari para penontonnya, riwayat tersebut disampaikan sambil diperagakan dalam bentuk pertunjukkan drama. Disamping itu drama berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita baik tentang kisah perburuan, kepahlawanan, perang, maupun kisah-kisah lainnya. Dengan segala kreatifitasnya, manusia kemudian memanggungkan cerita itu ke atas pentas drama.
Menginngat begitu pentingnya sejarah drama dalam perkembangan drama, maka kelompok kami akan membahas “Sejarah Perkembangan Drama Dunia”.

B.        RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas muncul rumusan masalah sbb:
1.      Bagaimanakah sejarah perkembangan drama di dunia?
2.      Bagaimanakah pembagian periode sejarah drama di dunia?
3.      Bagaimakah ciri dari masing-masing periode sejarah drama di dunia?

C.        MANFAAT
     Berdasarkan rumusan masalah tersebut, muncul manfaat sbb:
1.      Untuk mengetahui sejarah perkembangan drama di dunia.
2.      Untuk mengetahui pembagian periode sejarah drama di dunnia.
3.      Untuk  mengetahui ciri dari masing-masing periode sejarah sastra di dunia.



BAB II
SEJARAH DRAMA DI DUNIA

Secara garis besar, sejarah drama di dunia  dibagi dalam dua periode utama, yaitu periode lama atau kasik dan periode baru atau modern. Pada masa drama klasik terbagi  menjadi periode Yunani Kuno, Romawi Kuno, Abad pertengahan dan Masa Renaissance.[1]
A.     Drama Klasik
-          Drama Zaman Yunani Kuno
Seperti dibicarakan pada bagian awal, bahwa drama berasal dari zaman Yunani Kuno. Titik tolak dari pandangan ini bermula dari kegiatan upacara ritual yang dilakukan oleh masyarakat Yunani dalam menghormati keberadaan dewa sebagai penguasa bumi sekitar tahun 600 SM. Dalam upacara-upacara keagamaan tersebut mereka mengadakan festival tarian dan nyanyian hingga melahirkan dramawan masyhur bernama Thespis.
Tokoh Yunani lainnya yang terkenal dalam dunia drama adalah Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Dengan cara pandangnya yang berbeda, ketiga tokoh ini berperan penting dalam meletakkan dasar-dasar dramaturgi yang dikenal sekarang. Plato yang terkenal dengan karyanya The Republic memandang seni sebagai mimetik atau tiruan dari kehidupan jasmaniah manusia. Aristoteles berpendapat berbeda, dia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik belaka tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebajikan dalam diri karya itu sendiri.
Berbeda dengan Plato dan Aristoteles, Sophocles (496-406 SM.) memandang seni sebagai pelukisan manusia seperti seharusnya manusia. Drama-dramanya tidak mempersoalkan kejahatan dan hukumannya secara abstrak. Sedangkan pola drama yang digunakan selalu memunculkan tokoh berkepribadian kuat yang memilih jalan hidup meski berat dan sulit hingga membuatnya menderita. Beberapa karya dramanya yang terkenal yaitu Ayax, Antigone, Wanita-wanita Trachia, Oidipus Sang Raja, Electra, Philoctetes, dan oidipus di Kolonus. Beberapa tokoh drama Yunani lainnya adalah Aeschylus (525-SM.), Euripideus (484-406 SM), Aristophanes (448-380 SM), dan Manander (349-291 SM.).
Lakon- lakon drama yang terkenal di Yunani umumnya seputar kisah tragedi dan komedi. Drama tragedi cenderung menyajikan kisah yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan. Tokoh drama yang terkenal dalam drama tragedi zaman Yunani Kuno adalah Aeskill (525-456 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti Trilogi Oresteia, Orang-orang Persia, Prometheus dibelenggu, dan  Para Pemohon, Sophokles (496-406 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti; Trilogi Oidipus, Ajax, Wanita-wanita Trachia, dan  Electra, juga Euripides (484-406 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti; Hercules, Medea, Wanita-wanita Troya, dan Cyclop.
Drama komedi biasanya menyajikan kisah yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. Tokoh drama yang terkenal dalam drama komedi zaman Yunani Kuno adalah Aristhipanes (445-385 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti Para Perwira, Lysistrata, dan Burung-burung, dan Menander (349-291 SM) dengan karyanya yang terkenal yaitu Rasa Dongkol. Selain dua jenis drama tersebut, drama zaman Yunani mengenal juga drama satyr, yaitu bentuk drama yang berupa komedi ringan dan pendek. Unsur humor yang disajikan merupakan parodi terhadap mitologi. Karya satyre Yunani Kuno yang diketahui hanya Cyclop karya Euripides.
Semua lakon yang sudah ditulis dalam bentuk naskah drama ini dipentaskan di panggung terbuka yang berada di ketinggian. Panggung tersebut berada di tengah-tengah yang dikelilingi oleh tempat duduk penonton yang melingkari bukit. Gedung pementasan drama yang terkenal di Athena pada saat itu adalah Teater Dionysius di samping bawah bukit Acropolis, pusat kuil kota Athena yang dapat menampung 14.000 penonton.
Dalam prosesnya, pementasan drama di Yunani seluruhnya dimainkan pria. Bahkan peran wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng. Hal ini disebabkan karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).
-          Drama Zaman Romawi
Pada zaman Romawi, drama mulai dipentaskan pada tahun 240 SM di kota Roma oleh seniman Yunani yang bernama Livius Andronicus. Bentuk yang dipentaskan pada saat itu adalah drama tragedi. Penulis drama tragedi lainnya yang terkenal adalah Lucius Annaeus Seneca. Selain bentuk tragedi, drama zaman Romawi juga mementaskan bentuk komedi meskipun dalam penyajiannya banyak mencontoh dan mengembangkan komedi baru Yunani. Penulis drama tragedi zaman Romawi yang terkenal adalah Terence dan Plautus.
Karena merupakan hasil adaptasi dari drama Yunani, maka dalam konsep pertunjukkan drama Romawi juga terdapat konsep pertunjukkan drama Yunani. Meski demikian, drama zaman Romawi memiliki kebaruan-kebaruan  dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut :
1.            Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan.
2.            Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita.
3.            Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.
4.            Karekteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.
5.            Seluruh adegan terjadi di rumah,  di jalan dan di halaman.
Dalam sejarahnya, drama zaman Romawi menjadi penting karena pengaruhnya pada zaman Renaisance. Banyak penulis Renaisance yang mempelajari drama-drama Yunani lewat saduran-saduran Romawinya, misalnya dramawan William Shakespeare. Namun secara perlahan, drama Romawi mengalami kemunduran setelah bentuk Republik diganti  dengan kekaisaran tahun 27 Sebelum Masehi. Drama Romawi kemudian tidak muncul lagi setelah terjadi penyerangan bangsa-bangsa Barbar serta  munculnya kekuasaan gereja. Pertunjukan drama terakhir yang diselenggarakan di Roma terjadi tahun 533 M.
-          Abad Pertengahan
Drama abad pertengahan berkembang antara tahun 900 – 1500 M dengan mendapat pengaruh dari Gereja Katolik. Dalam pementasannya terdapat nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan koor. Kemudian ada pagelaran ‘pasio’ seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini. Lakon yang dimainkan mula-mula peristiwa kenaikan Yesus ke surga, sekitar cerita Natal, cerita-cerita dari bible, hingga lakon tentang para orang suci (santo-santo).
Ketika gereja tidak memperbolehkan mementaskan drama di dalam gereja, maka drama kemudian dipentaskan di jalan- jalan dan di lapangan. Hal ini berpengaruh pada perubahan tema lakon yang lebih cenderung tentang kebajikan, kekayaan, kemiskinan, pengetahuan, kebodohan, dan sebagainya. Pementasan drama seperti ini disebut drama moral, karena mengajarkan adanya pertarungan abadi antara kejahatan dengan kebaikan dalam hati manusia. Di tengah pementasan, biasanya dimasukkan unsur badut untuk memancing tawa penonton karena jenuh menyaksikan pementasan yang berjalan lamban. Ketika muncul reformasi sekitar tahun 1600 M, perkembangan drama abad pertengahan mengalami kemunduran hingga lenyap sama sekali.
Ciri-ciri  teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut:
a)      Dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.
b)      Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling  menyusuri jalanan.
c)      Dekor panggung bersifat sederhana dan simbolis.
d)      Lirik-lirik dialog drama menggunakan dialek atau bahas.
e)      Dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran.
f)       Tidak memiliki nama pengarang secara pasti untuk lakon yang dipentaskannya.


-          Masa Renaissance
Istilah Renaissance berasal dari bahasa Latin “renaitre” yang berarti “hidup kembali” atau “lahir kembali”. Pengertian renaissance adalah menyangkut kelahiran atau hidupnya kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi dalam kehidupan masyarakat Barat.
Drama Zaman Italia
Selama abad ke-17, Italia berusaha mempertahankan bentuk Commedia dell’arte yang bersumber dari komedi Yunani. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. Ciri Khas Commedia Dell’arte adalah:
a)      Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita.
b)      Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita  dan dituntut memilikik pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan  improvisasinya.
c)      Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun.
d)       Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang.
e)      Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu.
f)       Peristiwa  cerita berlangsung dan berpindah secara cepat.
g)      Terdapat  tiga tokoh  yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu.
h)      Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggung-panggung sederhana.
i)        Setting panggung sederhana yaitu; rumah, jalan, dan lapangan.
Para penulis naskah komedi terkenal pada masa itu adalah Carlo Goldoni, dengan karya-karyanya seperti: Hamba Dua Majikan (1745), Keluarga Pedagang Antik (1750), Si Pendusta (1750), Nyonya Sebuah Penginapan (1753); dan Carlo Gozzi, dengan karya-karyanya yang banyak mengambil tokoh-tokoh dongeng dan fantasi. Commedia dell’arte mulai merosot dan tidak populer di Italia pada akhir abad ke-18. Sedang dalam tragedi, penulis Italia yang menonjol pada abad itu adalah Vittorio Alfieri dengan karyanya yang terkenal yaitu Saul (1784) dan Mirra (1786).
Drama Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Gedung-gedung pementasan besar bermunculan mengikuti gedung pemntasan yang telah lebih dulu diangun atas prakarsa sang ratu. Salah satu gedung pementasan terbesar yang disebut Globe, bisa menampung 3.000 penonton. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare, penulis drama terkenal dari inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun1616. Ciri-ciri teater zaman Elizabeth adalah:
a)    Menggunakan naskah lakon yang dilaognya cenderung berbentuk puitis dan panjang-panjang.
b)   Penyusunan naskah lebih bebas , tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
c)   Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat.
d)   Tempat adegan ditandai dengan ucapan yang disampaikan dalam dialog para tokoh.
e)   Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki, bukan pemain wanita.
f)    Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman.
g)    Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan   akademi yang keklasik-klasikan.
Dramawan paling terkenal pada zaman ini adalah William Shakespeare (1546-1616). Selain Romeo dan Juliet, Shakespeare juga menulis beberapa naskah drama lainnya seperti The Comedy of Error, A Midsummer Night’s Dream, The Merchant of Venice, Julius Caesar, Hamlet, Macbeth, King Lear, Richard II, Richard III, Hnery V, dan sebagainya. Di Indonesia, beberapa naskah drama karya Shakespeare diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo, Muh. Yamin, dan Rendra. Dramawan lainnya setelah Shakespeaer adalah Thomas Dekker, Thomas Heywood, John Marston, Thomas Middleton, dan Christopher Marlowe.
Kegiatan drama di Inggris sempat mengalami kemunduran ketika kaum Puritan yang berkuasa menutup dan melarang segala bentuk kegiatan pementasan drama. Namun setelah Charles II berkuasa kembali, ia menghidupkan kembali kegiatan drama. Fase ini disebut zaman restorasi. Adapun ciri- ciri teater pada zaman restorasi adalah:
a)      Tema cerita bersifat umum dan penonton sudah mengenalnya.
b)      Tokoh wanita diperankan oleh Pemain wanita.
c)      Penonton tidak lagi semua lapisan masyarakat, tetapi hanya kaum menengah dan kaum atasan.
d)      Gedung teater  mencontoh gaya Italia.
e)      Pementasan diselenggarakan di  gedung  proscenium diperluas dengan menambah area yang disebut apron sehingga terjadi komunikasi yang intim antara pemain dan penonton.
f)       Setting panggung bergambar perspektif dan  lebih bercorak umum, misalnya taman atau istana.
 Drama Zaman Perancis
Drama di Perancis merupakan  penerus drama abad pertengahan, yaitu drama yang mementingkan pertunjukan dramatik, bersifat seremonial dan ritual kemasyarakatan. Beberapa kelompok drama amatir yang eksis pada masa itu dikelola oleh para pengusaha seperti Confrerie de la Passion yang memiliki gedung pementasan yang tetap di Paris sekitar tahun 1400. Kelompok ini memiliki monopoli di bawah lindungan istana hingga tahun 1598 sebelum akhirnya disewa oleh rombongan Les Comedians du Roi.
Drama zaman Prancis memiliki konsep penulisan naskah yang cenderung menggabungkan drama-drama klasik dengan tema-tema sosial yang dikaitkan dengan budaya pikir kaum terpelajar. Perubahan besar terjadi sekitar tahun 1630-an, ketika teori neoklasik dari Italia masuk ke Prancis. Pada waktu itu di Prancis teori ini amat dipegang teguh dan dipatuhi lebih dari negara manapun. Dasar dari teori neoklasik itu adalah:
a)      Hanya ada 2 bentuk drama, yaitu tragedi dan komedi yang keduanya tak boleh dicampur.
b)      Drama harus berisi ajaran moral yang disajikan secara menarik.
c)      Karakter harus menggambarkan sifat umum, yang universal dan bukan individual.
d)      Mempertahankan kesatuan waktu, tempat, dan kejadian.
Dramawan Perancis yang terkenal pada waktu itu adalah Pierre Corneille (1606–1684) dengan karya-karya: Horace, Cinna, Polyceucte, dan Rodogune; Jean Racine (1639-1699) dengan karya-karya: La Thebaide, Alexandre, Les Plaideurs; Moliere (1622-673) dengan karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Sekolah Istri, Dokter Gadungan, Cacad Bayangan, dan sebagainya.
Pada abad 18, drama di Perancis dimonopoli oleh pemerintah dengan Comedie Francaise-nya. Secara tetap mereka mementaskan komedi dan tragedi, sedangkan bentuk opera, drama pendek dan burlesque dipentaskan oleh rombongan drama Italia : Comedie Italienne yang biasanya mementaskan di pasar-pasar malam. Sampai akhir abad 18, Perancis menjadi pusat kebudayaan Eropa. Drama Perancis yang neoklasik menjadi model di seluruh Eropa.  Kecenderungan neoklasik menjalar ke seluruh Eropa.
Drama Abad 19
Abad 19 merupakan babak baru bagi proses perkembangan drama. Perpindahan orang-orang berkelas ke kota karena Revolusi Industri turut menyebabkan perubahan pada seni drama. Di Inggris, sebuah  drama kloset atau naskah lakon yang sepenuhnya tidak dapat dipentaskan mulai bermunculan. Tercatat beberapa nama penulis drama kloset seperti Wordswoth, Coleridge, Byron, Shelley, Swinburne, Browning, dan Tennyson. Baru pada akhir abad 19, drama di Inggris menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan munculnya Henry Arthur Jones, Sir Arthur Wing Pinero, dan Oscar Wilde. Juga terlihat kebangkitan  pergerakan teater independen yang menjadi perintis pergerakan “Teater Kecil” yang  nanti di abad ke 20 tersebar luas, misalnyai Theatre Libre Paris, Die Freie Buhne Berlin, independent Theater London dan Miss Horniman’s Theater Manchester yang mana Ibsen, Strindberg, Bjornson, Yeats, Shaw, Hauptmann dan Synge mulai dikenal masyarakat.
Selama  akhir abad 19 di Jerman muncul dua penulis lakon kaliber  internasional yaitu Hauptmann dan Sudermann. Seorang doktor Viennese, Arthur Schnitzler, juga menjadi dikenal luas di luar tempat asalnya Austria dengan naskah lakon yang ringan dan menyenangkan berjudul Anatol. Di Perancis, Brieux menjadi perintis teater realistis dan klinis. Sedangkan di Paris dikenal naskah drama berjudul Cyrano de Bergerac karya Edmond Rostand.
Sementara itu di Italia Giacosa menulis lakon  terbaiknya yang banyak dikenal, As the Leaves, dan mengarang syair-syair untuk opera, La Boheme, Tosca, dan Madame Butterfly. Verga menulis In the Porter’s Lodge, The Fox Hunt, dan Cavalleria Rusticana, yang juga lebih dikenal melalui opera Muscagni. Penulis lakon Italia  abad 19 yang paling terkenal adalah, Gabriel d’Annunzio, Luigi Pirandello dan Sem Benelli dengan lakon berjudul  Supper of Jokes yang dikenal di Inggris dan Amerika sebagai The Jest. Bennelli  dengan lakon Love of the Three Kings-nya dikenal di luar Italia dalam bentuk opera.
Di Spanyol Jose Echegaray menulis The World and His Wife; Jose Benavente dengan karyanya Passion Flower dan Bonds of Interest dipentaskan di Amerika; dan Sierra bersaudara dengan naskah lakon  Cradle Song menjadi penghubung   abad ke 19 dan 20, seperti halnya Shaw, Glasworthy, dan Barrie di Inggris, serta Lady Augusta Gregory dan W.B. Yeats di Irlandia.
Perkembangan drama di Amerika sampai abad 19 dikuasai oleh “Stock Company” dengan sistem bintang. Stock Company merupakan sebuah rombongan drama lengkap dengan peralatannya serta bintang-bintangnya yang rutin mengadakan perjalanan keliling. Dengan dibangunnya jaringan kereta api pada tahun 1870-an, Stock Company makin berkembang. Hal ini menyebabkan seni drama tersebar luas di seluruh Amerika hingga memunculkan beberapa kelompok drama lokal. Stock company lenyap sekitar tahun 1900. Sindikat teater berkuasa di Amerika dari tahun 1896-1915. Realisme kemudian menguasai panggung-panggung drama Amerika pada  Abad 19. Usaha melukiskan kehidupan nyata secara teliti dan detail ini dimulai dengan pementasan-pementasan naskah-naskah sejarah. Setting dan kostum diusahakan sepersis mungkin dengan zaman cerita. Charles Kenble dalam memproduksi “King John” tahun 1823 (naskah Shakespeare) mengusahakan ketepatan sampai hal-hal yang detail.
Zaman Realisme yang lahir pada penghujung abad 19 dapat dijadikan landas pacu lahirnya seni drama modern di barat. Penanda yang kuat adalah timbulnya gagasan untuk mementaskan lakon kehidupan di atas pentas dan menyajikannya seolah peristiwa itu terjadi secara nyata. Gagasan ini melahirkan konvensi baru dan mengubah konvensi lama yang lebih menampilkan seni drama sebagai sebuah pertunjukan yang memang dikhususkan untuk penonton. Tidak ada lagi pamer keindahan bentuk akting dan puitika kata-kata dalam Realisme. Semua ditampilkan apa adanya seperti sebuah kenyataan kehidupan.

B.        Drama Modern
Drama modern pada dasarnya merupakan proses lanjutan dari kejayaan pementasan drama sebelumnya yang dimulai sejak zaman Yunani. Perubahan yang nampak terdapat pada hampir seluruh unsur drama pentas. Berbagai karakter tokoh di atas pentas diekspresikan dengan konsep pementasan modern yang memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru dalam unsur musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya permainannya pun cenderung didominasi realistis hingga mengalami kejenuhan dan lebih menjurus pada gaya permainan yang eksperimental.
Perkembangan gaya eksperimental ditandai dengan banyaknya gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha para dramawan berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya; Simbolisme, Surealisme, Epik, dan Absurd. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman drama modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan kita pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.
Selain konsep dan bentuk pementasan yang modern, perkembangan drama modern dunia juga ditandai dengan munculnya beberapa dramawan yang namanya mendunia seperti:
1.      Henrik Ibsen (1828-1906) dari Norwegia dengan karyanya seperti Nora, Love’s Comedy, Brand and Peer Gynt, A Doll’s House, An Enemy of the People, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmershom.
2.      Augst Strindberg (1849-1912) dari Swedia dengan karyanya seperti Saga of the Folkung, Miss Julia, The Father, A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.
3.      George Bernard Shaw (1856-1950) dari Inggris dengan karyanya seperti Man and Superman, Arms and The Man, Major Barbara, Saint Joan, The Devil’s Disciple, dan Caesar and Cleopatra.
4.      William Butler Yeats (1884) dari Irlandia dengan karyanya seperti The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Stars, The Silver Tassie, Within the Gates, dan The Star Turns Red.
5.      Emile Zola (1840-1902) dari Prancis dengan karya drama terkenalnya yaitu Therese Raquin. Selain Zola, dramawan Prancis lainnya yang terkenal adalah Jean paul Sartre (1905-....) dengan karyanya seperti Huis Clos dan Les Mouches.
6.      Bertolt Bercht (1898-1956) dari Jerman dengan karyanya seperti Threepenny Opera, Mother Courage, dan The Good Woman of Setzuan.
7.      Luigi Pirandello (1867-1936) dengan karyanya seperti Right You Are, If You Think You Are, As You Desire Me, Henry IV, Naked, Six Characters in Search of an Author, dan Tonight We Improvise.
8.      Federico Garcia Lorca (1889-1936) dari Spanyol dengan karyanya seperti The Shoemaker’s Prodigius Wife, dan The House of Bernarda Alba.
9.      Maxim Gorky (1868-1936) dari Rusia dengan karya drama terkenalnya yaitu The Lower Depth.
10.  Tennesse Williams (1914-....) dari Amerika dengan karyanya seperti Cat on a Hot Tin Roof, Orpheos Descending, Baby Doll, dan Sweet Bird of Youth.[2]





BAB III
SIMPULAN
Secara garis besar, sejarah drama di dunia  dibagi dalam dua periode utama, yaitu periode lama atau kasik dan periode baru atau modern. Pada masa drama klasik terbagi  menjadi periode Yunani Kuno, Romawi Kuno, Abad pertengahan dan Masa Renaissance.
Dilihat dari perkembangan drama di berbagai belahan dunia, terdapat beberapa perkembangan di berbagai segi. Mulai dari segi isi cerita yang mulai beraneka ragam, property yang digunakan, dan teknologi.
Ciri-ciri pada drama periode klasik dibagi pada berbagai periode. Tiap-tiap periode pun memiliki ciri-ciri yang berbeda satu sama lain. Pada periode Yunani kuno lakon-lakon drama yang terkenal umumnya seputar kisah tragedi dan komedi. Dalam prosesnya, pementasan drama di Yunani seluruhnya dimainkan pria. Bahkan peran wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng. Hal ini disebabkan karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).
Dan cirri-ciri drama modern adalah sebagai berikut perubahan yang nampak terdapat pada hampir seluruh unsur drama pentas. Berbagai karakter tokoh di atas pentas diekspresikan dengan konsep pementasan modern yang memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru dalam unsur musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya permainannya pun cenderung didominasi realistis hingga mengalami kejenuhan dan lebih menjurus pada gaya permainan yang eksperimental.





DAFTAR PUSTAKA
Anonym, http://id.scribd.com/doc/49845980/SEJARAH-DRAMA-DUNIA diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 15.45 WIB.

Kusmawi, D. Ipung, http://teater-damar.blogspot.com/2012/08/mengenal-sejarah-drama_4401.html diakses pada tanggal 24 Maret 2013 pukul 16.30 WIB



[1] Anonym, http://id.scribd.com/doc/49845980/SEJARAH-DRAMA-DUNIA diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 15.45 WIB.
[2] D. Ipung Kusmawi, http://teater-damar.blogspot.com/2012/08/mengenal-sejarah-drama_4401.html diakses pada tanggal 24 Maret 2013 pukul 16.30 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar