Sabtu, 28 April 2012

Pendekatan Pragmatik "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga" karya Kuntowijoyo


A.                Sinopsis cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” Karya Kuntowijoyo

Cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” mengisahkan seorang anak laki-laki bernama Buyung yang menyukai bunga, tetapi ditentang keras oleh ayahnya. Cerita dimulai dengan kepindahan keluarga Buyung dari desa ke kota. Di kota, rumahnya bersebelahan dengan sebuah rumah berpagar tembok tinggi. Dari orang-orang, Buyung mendapat kabar bahwa rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang hidup sendiri. Karena terdorong rasa penasaran yang kuat, akhirnya ia mengintip rumah itu dengan naik ke pagar tembok melalui pohon kates di pekarangan rumahnya. Ia kaget ketika menyaksikan pemandangan halaman rumah itu yang penuh dengan banyak bunga. Namun. Ia tak berhasil melihat kakek. Ia pun bertanya pada orang-orang tentang kakek, tetapi tak satu pun yang mengetahuinya. Walaupun kawan-kawannya mengejek, ia tetap mencari informasi  tentang kakek. Sampai suatu hari, ia bisa bertemu  kakek itu secara dekat. Pada pertemuan pertama, kakek memberinya bunga yang diselipkan pada tangannya. Anehnya, ia langsung mencintai bunga itu. Ayahnya menentang dan menghancurkan bunga itu. Buyung merasa sedih.
Sejak itu, Buyung sering mengunjungi rumah kakek dan pulang membawa bunga ke rumah. Bunga itu ia simpan di kamarnya. Ayahnya marah besar melihat hal itu. Akhirnya terjadilah perang dingin antara ia dan ayah. Ia menghindari bertemu ayah. Ia lebih memilih mengurung diri di kamar sambil menatap bunga-bunga atau pergi ke rumah kakek. Ayahnya tak menyukai hal tersebut, maka disuruhlah Buyung bekerja di bengkel yang berada di halaman rumah. Praktis, seluruh waktu yang dimilikinya habis untuk sekolah, mengaji, dan bekerja. Ia hampir tak punya waktu untuk berkunjung ke rumah kakek. Ketika ada kesempatan, barulah ia dapat menemui kakek. Saat itu, ia menanyakan pekerjaan kakek. Kakek menjawab bahwa ia mencari hidup sempurna melalui bunga. Ia juga bertanya pada ayah. Ayahnya menjawab bahwa ia mencari hidup sempurna melalui bekerja. ”Engkau mesti bekerja. Sungai perlu jembatan. Tanur untuk melunakkan besi perlu didirikan. Terowongan mesti digali. Dam dibangun. Gedung didirikan. Sungai dialirkan. Tanah tandus disuburkan. Mesti. Mesti, Buyung! Lihat tanganmu!” kata ayahnya. Buyung pun menemukan jawaban bahwa kedua tangannya harus digunakan untuk bekerja. Kemudian, cerita ditutup dengan sebuah kalimat singkat, ”Bagaimanapun aku adalah anak ayah dan ibuku”.[1]

B.                 Analisis Cerpen dengan Pendekatan Pragmatik
Cerita “Dilarang mencintai bunga-bunga”, yang dipilih sebagai judul kumpulan cerpen ini, mengungkapkan masalah yang dihadapi seorang anak ketika harus menentukan pilihan antara bunga dan bengkel. Tokoh dalam cerpen itu adalah seorang anak laki-laki yang bersama orang tuanya baru saja pindah ke kota. Ayahnya adalah sorang pekerja bengkel, gagah, berotot, dan tak kenal lelah kerja apapun. Pendiriannya: Malas adalah musuh besar laki-laki.

Di kota, si anak berkenalan dengan sorang kakek. Mula-mula diselubungi  serba rahasia, kalau bukan takhayul, yang memilih bunga sebagai lambang kehidupan. Permainan lambang Kuntowijoyo rupanya mengikuti konvensi yang ada. Dalam perlambangan itu, ia menggunakn kontras untuk menawarkan makna. Anak itu berada dalam tegangan antara kakek dan ayah, bunga dan mesin, ketenangan jiwa dan kegemuruhan kerja, surga dan neraka. Di rumah kakek, si anak belajar mencintai bunga, mencari ketenangan jiwa, dan kehidupan sempurna. Ayahnya menjadikan rumahnya sebuah bengkel yang bising oleh suara pukulan palu. Ayah memang berkuasa atas anak, memaksanya melupakan “bunga” dan melumurinya dengan kerja. Ibu memihak ayah, memberikan tambahan, yakni masjid. Akhir cerita, si anak memilih kedua orangtuanya, yakni bengkel dan mesjid, kerja dan mengaji. Bukan keheningan jiwa dan bunga.

Dalam ceritanya, terasa dialog antara Kakek dan sang anak yang menjadi tidak ringan lagi, bahkan melampaui takaran nalar sang bocah, misalnya saat mereka berdialog untuk mencari kesempurnaan hidup : “Rumah ini”, kata Kakek, “sebagian kecil dari sorga (hlm.9) . Atau ungkapan ini: “Katakanlah,Cucu. Apakah yang lebih baik dari ketenangan jiwa?” sang bocah yang dikisahkan masih menyulai layang-layang itu pun menjawab, “Tidak ada Kakek! Tidak ada yang lebih dari itu! (Hlm.12)

Dikisahkan kemudian Kakek menuntun bocah menikmati bunga-bunga: “Segala yang mengendap. Cobalah lihat, Cucuku. Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketentraman, ketenangan dan keteguhan jiwa. Di luar matahari membakar. Hilir mudik kendaraan”. Demikian bunyi ajaran Kakek kepada bocah, yang tentu maksudnya menyodorkan keseimbangan.

Dalam kumpulan cerpen ini, Kuntowijoyo menunjukkan perhatiannya atas berbagai masalah sosial yang barang kali tampak terlalu sepele bagi kebanyakan pengarang yang lebih memperhatikan gagasan “besar”. Ia menelusuri pikiran dan perasaan berbagai jenis manusia yang sering tampak kebingungan menghadapi situasi sosial tertentu, apakah menyangkut diri sendiri atau orang lain. Ketidakmengertian itu membuahkan “kelambanan” bereaksi dalam diri tokoh-tokohnya. Ini ditunjukkan dalam karakter sang Anak yang terombang-ambing dalam pendiriannya yang masih goyah. Cerpen ini menekankan pengutaraan yang sangat rinci pada hubungan antara kakek dengan sang anak. Kuntowijoyo lebih banyak mengutarakan pandangan hidup kakek yakni kebatinan.

Kumpulan cerpen mengandung “benang merah” gaya penulisan pengarangnya, perkembangan kepengarangnnya, dan pesan yang menjadi obsesi pengarang. Kecuali itu, barangkali juga, kumpulan cerpen adalah suatu retrospreksi bagi pengarangnya.
Demikianlah motivasi yang melatarbelakangai pembahasan singkat tentang sepuluh kumpulan cerpen karya Kuntowijoyo. Siapa yang tidak mengenalnya? Ia bukan hanya sastrawan, tetapi juga sejarawan, guru, dan pemikir Islam yang cemerlang. Kiranya inilah yang pertama-tama harus diketahui sebelum lebih jauh membaca karya-karya yang dengan tepat dipilih oeh Sunu Wasono untuk diterbitkan kembali dalam buku ini.  Meskipun demikian, cerpen-cerpen  yang terdapat dalam buku ini sama sekali tidak mengesankan eksistensi  Kuntowijoyo sebagai ilmuwan atau begawan. Ia membatasi dirinya dalam kapasitas cerpenis. Tak ada petuah, ia mendakwah, dan tak ada sejarah. Sebagai pemikir, tentu hal-hal itu sudah dipikirkannya dengan suatu asumsi bahwa muatan cerpen tidak sama dengan muatan novel. Dengan demikian, jangan membandingkan kumpulan cerpen ini misalnya dengan karya novel monumentalnya “Chotbah di Atas Bukit”.[2]

Cerpen Kuntowijoyo ini termasuk cerpen “filsafat” dengan pola konvensional. Pikiran-pikiran filsafatnya dinyatakan dengan intensif, tetapi tetap terguyur basah oleh emosi cerita karena penempatan kata-katanya yang puitis. Pikiran-pikirannya problematik dan menarik sekali dikaji dan dianalisis, dan merangsang untuk membuka sebuah dimensi tentang arti  kehadiran manusia di muka bumi ini, pola hidup, pola pikiran, dan tata tumbuh manusia memang saling berbeda, sesuai dengan latar belakang, persepsi dan visinya dalam memandang dan menerjuni kehidupan ini.

Nampaknya setting yang dibangun Kuntowijoyo sangat diperhitungkannya untuk dapat membangun watak-watak pelaku-pelakunya. Watak Ayah yang keras dan dinamis diwakilkan oleh setting kerjanya sebagai orang teknik, watak Kakek diwakili oleh setting rumahnya yang lindung dan dianggap angker oleh anak-anak, dan bunga-bunganya yang semerbak harum. Kakek adalah wakil kelemah lembutan, dunia wanita. Sedang “Aku” adalah orang yang sedang dalam masa tak menentu, tertarik ke kiri dan ke kanan, dan itu semua sangat cocok dengan analisa watak. Sehingga cerpen ini walaupun panjang tetap mengasyikkan dan tidak pernah lelah membacanya. [3]

Dibandingkan dengan kebanyakan cerpen Indonesia, cerpen ini tergolong panjang. Dengan masalah yang tampaknya sederhana itu tentu bisa segera dibayangkan bahwa pengutaraan yang rinci menjadi penting, bahkan merupakan teknik utama dalam cerpen Kuntowijoyo. Cerpen ini menekankan pengutaraan yang sangat rinci pada hubungan antara kakek dengan sang anak. Kuntowijoyo lebih banyak mengutarakan pandangan hidup kakek yakni kebatinan. Saya membaca adanya tarik menarik, dan tegangan itu berlangsung sepanjang cerita. [4]




C.                 PENUTUP
Kesimpulannya adalah karya sastra “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga” ini sarat dengan filosofi filsafatnya. Ini terlihat dari bagaimana Kuntowijoyo memaparkan dua filosofi hidup melalui watak Ayah dan Kakek. Dan sang Anak dalam cerpen ini mewakilkan kebingungan dalam menentukan pedoman hidup, walaupun pada akhirnya sang anak lebih memilih kedua orangtuanya. Dalam cerpen ini, begitu banyak asek yang masih bisa dianalisis, sehingga meskipun panjang cerpen ini mengasyikkan untuk dibaca.

Dan kebingungan yang terjadi dalam diri sang Anak, tanpa kita sadari pun ada di dalam diri kita. Tidak seperti kebanyakan pengarang yang mengambil gagasana besar dalam setiap karyanya, dalam cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga ini, Kuntowijoyo  mengambil gagasan yang terasa sangat sederhana, namun sebenarnya ini merupkan isu-isu sosial yang terasa nyata.























DAFTAR PUSTAKA

Abede Pareno, Sam. (1 Maret 1993). Benang Merah Kepedulian Kuntowijoyo. Jawa Pos, hal.8, kolom 4-8
Djoko Damono,  Sapardi (19 Desember 1992), Tegangan Kakek dan Anak Kecil. Tempo, No.42,
                Halaman 7
Layun Rampan, Korrie. (24 Nopember 1981), Kuntowijoyo “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”.Pelita,hal.5, kolom 5
Warni Ai, “Sinopsis Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, dalam http://ai-warni.blogspot.com/2010/05/ , diakses pada tanggal 18 April 2012 Pukul 19.15 WIB


[1] Ai Warni , “Sinopsis Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”, dalam http://ai-warni.blogspot.com/2010/05/ , diakses pada tanggal 18 April 2012 Pukul 19.15 WIB.
[2] Sam Abede Pareno. (1 Maret 1993). Benang Merah Kepedulian Kuntowijoyo. Jawa Pos, hal.8, kolom 4-8
[3] Korrie Layun Rampan. (24 Nopember 1981), Kuntowijoyo “Dilarang Mencintai Bunga-Bunga”.Pelita,hal.5, kolom 5
[4] Sapardi Djoko Damono. (19 Desember 1992), Tegangan Kakek dan Anak Kecil. Majalah Tempo, hal.71, No.42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar