Rabu, 24 Oktober 2012

Kenangan

Tiba-tiba teringat malam itu ... seperti biasa, aku menunggumu di sini. Tempat yang sama.
Kamu datang dengan wajahmu yang meneduhkanku, menjemputku agar kamu memastikan aku sampai ke rumah nenek dengan selamat.

Malam itu, di kampungku sedang terjadi banjir di beberapa titik yang harus kita lewati. Dengan penuh rasa tidak enak, kamu meminta maaf karena telah membiarkanku merasakan ikut menuntun motormu yang tak bisa dinyalakan dengan kondisi banjir tersebut. Aku bilang, tak mengapa. Aku sudah cukup senang dengan kehadirnmu di sini, malam yang dingin ini menemaniku pulang ke rumah nenekku.

Setelah melewati titik banjir itu, kamu menyalakan motormu kembali. Kita bersama melewati luasnya pematang sawah dan rumah-rumah. Kamu mengatakan, sayang padaku. Tak berhenti kamu katakan itu. Sepanjang jalan, kita bercerita tentang mimpi kita. Mimpi untuk selalu bersama. Kamu tarik tanganku. Kamu kecup kemudian. 

Setelah agak mendekat dari nenekku, aku katakan padamu. Sampai di sini saja. Aku hanya perlu berjalan lima menit saja. Aku hanya tak ingin ada omongan tidak sedap mengenaiku. Akhirnya, kuturunkan tasku yang berada di depan motor. Kamu bersikeras ingin mengantarku sampai depan rumah. Aku jawab jangan. 
Sekilas kulihat matamu. Ahh, mata itu. Betapa meneduhkanku.

Selalu, setiap bersamaku. Kamu pancarkan kasih sayang penuh cinta yang terlihat jelas di matamu. Mata itu, tak henti memandangku seolah memujaku. Membuatku sangat berarti di hidupnya. Mata itu, membuatku merasa menjadi

Kini, mata meneduhkan itu bukan milikku lagi. Cerita cinta yang sudah kuukir bersamamu, harus lenyap begitu saja ...
Kini, tak ada lagi yang memberikan tatapan mata itu. Kamu ingkari janji-janji itu. Kamu lepas semuanya dan memilih berada di sisinya. 

Aku tak mengerti,
Mengapa Tuhan harus mempertemukanku denganmu?
Kenapa Tuhan harus mengambil kamu yang kuyakini sebagai cinta terakhirku?
Kenapa Tuhan harus menggariskanku memilki cinta yang berakhir tak bahagia?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar