Selasa, 17 Januari 2012

Curhatan mahasiswa galau nilai ...

Udah kelar UAS, udah selese juga cobaan-cobaan itu. Kalo kata Bang Arief, "Siapa yang menciptakan UAS? Kasian anak-anak yang tak berdosa seperti kami."
dan saya setuju! Muahemuaheumuaheu

oke *fokus nay fokus*
sekarang sih mau curhat bukan tentang itu, tapi saya mau curhat sedikit tentang kekecewaan saya tentang nilai-nilai UAS yang sedikit demi sedikit mulai keluar. 

SHOCK ! thats the first word that i said when i saw that scores.
bukannya ngerasa sok pinter, tapi i think its unfair enough untuk matkul 'itu'.


lemme tell da story ...

Pada awal perkuliahan, sang dosen selalu bilang bahwa keaktifan kelas menunjang nilai yang akan kalian dapat. Bahkan banyak yang bilang, UAS dan UTS itu ga terlalu penting! Namun, saya, sebagai peserta didik, ngerasa terluka aja, liat persentase nilai formatif untuk matkul 'itu' hanya 10 %.
Saya, yang pada dasarnya ga munafik ingin dapat nilai besar agar terhindar dari kejaran SP-SP yang biayanya ga sedikit. Dan tentunya nilai-nilai itu berpengaruh untuk someday apply scholarship maybe..

Ini mungkin menjadi tidak masalah bagi mereka yang memang tidak punya kecenderungan untuk selalu aktif di kelas, namun bagi saya yang notabenenya lemah di UTS dan UAS, akan sangat berarti.
Di kelas, untuk sesi presentasi dalam lingkup diskusi kelas,  saya berusaha untuk aktif dan kritis baik dalam hal bertanya  maupun menambah argumen di dalam diskusi. Sang dosen pun selalu mengingatkan untuk melakukan hal seperti itu. Namun, setelah melihat hasil di website, ini membuat saya kecewa.

Just say 10 % in  100 %???

hmmm ... Kita sebagai murid mempunyai kewajiban dan hak. Dan saya menganggap bahwa hak saya tidak sebanding dengan kewajiban yang telah saya lakukan.


saya pikir, ketika orang lain mengatakan "Niatnya belajar Nay, bukan nilai." itu benar ! Nothing Wrong! thats true ..
tapi mungkin balik lagi pada tataran apresiasi sang guru itulah yang mungkin perlu ada sedikit pembenaran.


yaudahlah, mungkin saya aja yang salah. Terlalu berharap banyak, terlalu megang kata-kata dosen tsb.
Lets say Alhamdulillah .
i think its enough, maaf jika dalam pemakaian kata-kata, saya melakukan banyak kesalahan. ini cuma curhatan mahasiswa yang galau nilai. Its unfair in the finish. thats my conclusion.
Semoga kelak saya bisa menjadi guru yang bisa mengahargai dan mengapresiasi murid saya nanti. Amiinn :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar